Profesi Wartawan Idaman Rakyat‏

Hardi Rangga, SH
Redaksi: Jaya Pos Indonesia

Profesi wartawan adalah sebuah profesi yang sangat mulia dan strategis, bayangkan jika tanpa profesi wartawan dan jurnalis pasti hidup dalam kegelapan, untuk menjadi seorang wartawan yang handal dan profesional ada 10 hal yang harus diperhatikan:
1.Hubungan dengan narasumber harus dikontrol agar tidak terlalu dekat dan tidak terlalu renggang.Ini mengarahkan kita menjadi independen. Juga agar tidak diperalat. Menjadi wartawan bukan untuk mencari kawan, juga tidak mencari lawan – tapi mencari berita.
Tidak pernah ada dalam kode etik wartawan Indonesia, atau dalam kode etik wartawan di negara mana pun, atau dalam mata kuliah jurnalistik, yang menyebutkan profesi wartawan adalah untuk mencari kawan sebanyak-banyaknya. “Sesungguhnya wartawan adalah pertapa yang hebat; yang sanggup kesepian di tengah keramaian; karena dia lebih peduli pada APA daripada SIAPA.”
Sebagai wartawan, lebih bagus jika anda tidak punya profesi lain. Hindari menjadi pengurus parpol, LSM, apalagi pemborong. “Semakin sedikit predikat yang disandang, semakin baik seorang wartawan menulis,” ujar Katharine Graham, pemilik Washington Post. “Wartawan ya wartawan. Titik,” kata Bambang Soed dari Tempo.
2. Cara terbaik menjadi penulis yang baik adalah: mulai dulu menjadi pembaca yang baik. Usahakan menulis feature setidaknya sekali dua minggu .
Wartawan yang bisa menulis feature sudah pasti “sempurna” menulis berita biasa – yang berpola piramida terbalik. Sebaliknya belum tentu. Berita politik atau berita bisnis tidak dibaca semua orang. Tapi feature, pasti banyak dibaca.
3. Berita bukan cuma mengenai pejabat, tapi kisah rakyat kecil.
Anda mungkin pernah membaca beberapa tahun lalu sebuah berita feature di halaman depan Kompas. Bukan mengenai Presiden yang bermain dengan cucunya; tapi tentang seorang buruh pabrik sandal yang diadukan ke polisi dengan tuduhan mencuri sepasang sandal. Padahal dia cuma memakai sebentar sandal itu ke mushola untuk sembahyang.
Bayangkan, berita sepele itu muncul di halaman depan koran sebesar Kompas. Dan inilah kelemahan banyak koran daerah: sering menganggap hanya berita tentang gubernur atau bupatilah yang layak di halaman depan; padahal justru kisah-kisah humanis tentang orang-orang kecil itulah yang idealnya diangkat pers ke permukaan. Apakah itu karena wong cilik tak mampu kasih amplop kepada wartawan seperti halnya amplop temu pers pejabat?
4. Jurnalisme adalah pekerjaan orang-orang kreatif.
Bagi penulis dan jurnalis, menemukan ide-ide, apalagi orisinal, bagai menemukan harta karun. Perhatikan lingkungan; jangan cuma lihat. Simak pembicaraan orang; jangan hanya dengar. Berpikir kreatif kulakukan dengan berkhayal sebelum tidur di tengah malam; atau ketika jongkok di toilet sambil mengepulkan asap rokok. Bila ide muncul, langsung catat di kertas atau laptop.
5. Gunakan istilah yang spesifik dan mudah dimengerti.
Pakai kata khusus; bukan kata umum. Hindari repetisi dan kata-kata berkabut.
Tulislah “Lima penjambret dompet ditangkap dalam perayaan Natal” Jangan tulis “Sejumlah kriminal diamankan aparat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena melakukan tindak pidana dalam perayaan hari raya Kristen yang suci dan khusyuk.”
Tak ada salahnya sesekali bereksperimen dengan kosa-kata dan frasa baru. Itu membuat karya anda senantiasa segar dan tidak membosankan. Jangan pernah berpikir akan dipuji sebagai wartawan hebat karena anda menulis istilah-istilah sulit, berbahasa asing, dan ilmiah. Bila anda gemar menyelipkan kata-kata ilmiah pada setiap kalimat dan alinea, cobalah menulis buku pelajaran atau jadi dosen – anda sudah kesasar berprofesi sebagai wartawan.
6. Semakin jarang mengutip sumber anonim, semakin baik.
Semakin berani seorang sumber disebutkan identitasnya, semakin kecil kemungkinan ia berbohong. Ada tips untuk ini. Jika mulai curiga si narasumber berbohong, langsung keluarkan alat perekam atau kamera. Jika memang sedang berbohong, biasanya dia menolak untuk direkam atau difoto.
7. Wartawan harus berkarakter.
Jangan jadi wartawan kebanyakan. Maka anda harus jadi wartawan berkarakter. Maksudnya adalah karakter pada tulisan; bukan penampilan diri, apalagi kalau harus menggondrongkan rambut dan memakai sandal jepit ketika meliput.
Buatlah pembaca membolak-balik koran hanya untuk mencari tulisan anda. Pendiri Kompas Jacob Oetama mengatakan, setiap wartawan harus menetapkan etika dan standarnya sendiri-sendiri.
Dalam berita seminar ilmu fisika misalnya, kita harus menulis gelar si pembicara agar publik tahu layak tidaknya dia bicara soal fisika. Atau dalam berita walikota yang baru dilantik, tentu bagus menjelaskan apa saja gelarnya untuk pertama kali.
Jangan sesekali menjiplak berita dari wartawan lain, apalagi menjiplak yang sudah terbit. Karena itu menjadikan karya-karya kita tidak berkarakter.
8. Belajarlah memotret.
Berita koran akan lebih menarik jika disertai foto. Meskipun tugas utama reporter adalah menulis, sebaiknya jangan malas memotret. Terkadang sebuah foto yang kuat lebih layak menghabiskan lima kolom koran dibanding berita.
Perhatikan foto-foto lepas di Kompas atau Koran Tempo. Tiga hal pokok dalam foto jurnalistik adalah momen (waktu terbaik menjepret tombol pembuka rana), angle (sudut pengambilan kamera), dan komposisi gambar. Foto jurnalistik yang baik tidak selalu harus fokus atau berwarna tajam dan indah. Yang utama ialah: foto itu menjelaskan sesuatu. Katakan seorang reporter menyertakan foto untuk berita rapat pemkab seperti ini: gambar seorang PNS memunguti kertas yang lepas dari tangannya dengan latar bupati sedang berbicara. Foto ini sangat pantas untuk dimuat.
9. Jangan menginterogasi; anda bukan polisi.
Tugas wartawan sebatas memberitahu publik apa yang terjadi. Maka jangan memposisikan diri sebagai interogator, jaksa, atau hakim ketika mewawancarai narasumber. Pakailah bahasa yang santun. Kritis tidak berarti harus kasar. Lebih baik kita terlihat bodoh di depan narasumber daripada konyol di mata pembaca.
10. Senjata wartawan yang paling ampuh adalah bertanya.
Amunisi paling tajam adalah kata-tanya “mengapa”. Karena pertanyaan dengan kata tanya “mengapa”ini akan mengungkapkan alasan dan latar belakang terjadinya suatu peristiwa. (Hardi Rangga, SH)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di OPINI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s